15 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Mengenal Heldy Djafar, Gadis Tenggarong Istri Bung Karno (1)


Mengenal Heldy Djafar, Gadis Tenggarong Istri Bung Karno (1)
Heldy Djafar dan Soekarno

KLIKTENGGARONG - Kutai Kartanegara tak hanya terkenal dengan kekayaan alamnya yang melegenda. Kabupaten yang dalam sejarah adalah kerajaan tertua di Nusantara ini juga masyhur karena kecantikan alami para wanitanya. Heldy Djafar adalah contoh keelokan rupa para gadis Kutai.

Heldy Djafar lahir di Tenggarong, Kukar, 69 tahun silam. Wanita berdarah Kutai itu adalah istri kesembilan Ir Soekarno. Proklamator Indonesia sekaligus presiden pertama. Ketika dipersunting oleh Soekarno, Heldy baru saja akil baligh. Umurnya 18 tahun. Bung Karno sendiri tepat berusia 65 tahun ketika itu.

Perjumpaan keduanya berlangsung bak cerita dalam dongeng. Seperti ditulis dalam buku berjudul; Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kesmono, disebutkan Heldy pergi ke Jakarta menyusulu saudaranya yang lain ketika lulus SMP.

Ia memiliki cita-citanya menjadi desainer interior. Bertolak dari Tenggarong, Heldy berangkat bersama Milot dan Izhar, dua orang saudara iparnya. Ketika itu, tak ada pesawat. Mereka berangkat menggunakan kapal laut dari Balikpapan.

Heldy tinggal di rumah Erham, kakaknya yang saat itu telah berkeluarga dan memiliki tiga anak. Kakaknya tinggal di Jakarta di Jl Ciawi III No. 4 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana juga ada dua keponakan istri Erham, Sofini dan Maryati. Juga ada dua sepupu Heldy yakni Kartini dan Nur, juga Johan, kakak laki-laki Heldy. Heldy banyak membantu kakak iparnya di dapur. Di Jakarta, juga ada kakak Heldy yang lain, yakni Yus, kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun, Yus tinggal di Asrama Mahasiswa Kalimantan Timur di Jakarta Pusat.

Kecantikan Heldy menyebar di kalangan mahasiswa, teman Yus. Bermula ketika Yus mengajak adiknya itu dalam salah satu kegiatan di kampus. Adji, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bahkan menyatakan cintanya. Itu diikuti beberapa pemuda lain. Bahkan, seorang guru kimia yang mahasiswa Fakultas Kedokteran, Zulkifli TS Tjaniago dan seorang guru pelajaran tekstil, Arnauly, juga sering memberi perhatian besar dan mengunjungi Heldy.

Yus berperan besar dalam perkenalan Heldy dengan Bung Karno. Yus dipercaya protokol Istana Negara untuk menyiapkan barisan Bhinneka Tunggal Ika. Barisan yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno itu terdiri atas remaja putra-putri dari beberapa provinsi. Mereka bagian protokol Istana. Tugasnya menjadi pagar ayu. Heldy yang saat itu kelas 2 SKKA terpilih mewakili Kalimantan. Keluarganya yang lain juga masuk, yakni sepupunya dan keponakan istri Erham.

Suatu hari di tahun 1964, Heldy berdiri berjajar di tangga Istana Merdeka bersama anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengenakan kebaya warna pink dengan kain lereng, berselendang, dan rambutnya disanggul hasil penataan Minot, kakak perempuannya. Hari itu Presiden menyambut tim bulutangkis yang baru merebut Piala Thomas.

Tibalah saatnya Bung Karno muncul dan berjalan menapaki anak tangga. Seperti biasa, ia berjalan sambil mengamati kiri dan kanan. Memandang satu demi satu anggota barisan, tersenyum, dan tepat di depan Heldy, Bung Karno mendekat dan menepuk bahu kirinya.

“Dari mana asal kamu?”
“Dari Kalimantan, Pak,” jawab Heldy kaget dan gemetar. 
“Oh, aku kira dari Sunda. Rupanya ada orang Kalimantan cantik.”

Ada rasa bangga, khawatir dan deg-degan dalam diri Heldy. Orang yang selama ini hanya bisa dilihat lewat foto dan didengar suaranya lewat radio, menepuk dan menyapanya. Pertemuan pertama yang penuh ketegangan namun sangat berkesan.

Yus yang melihat dari kejauhan, dihampiri staf protokol Istana. “Lihat, adikmu mendapat perhatian dari Presiden. Baik-baik dijaga,” kata staf itu. Yus tak tahu maksud nasihat itu.



Reporter : Marki/Kompas.com    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0