15 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Mengenal Heldy Djafar, Gadis Tenggarong Istri Bung Karno (2)


Mengenal Heldy Djafar, Gadis Tenggarong Istri Bung Karno (2)
Buku tentang perjalanan cinta Soekarno dan Heldy Djafar.

KLIKTENGGARONG - Heldy dan Bung Karno menikah di tengah kondisi Indonesia yang kacau. Tentara disibukkan dengan pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Soekarno terseret dalam pusaran gejolak. Suhu politik memanas di akhir September 1965. Keduanya jarang bertemu. Bung Karno jarang ke rumah Heldy di Jl. Cibatu. Tetapi, pada awal Oktober 1965, datang ajudan membawa kabar bahwa Presiden baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian datang lagi ajudan untuk menjemput Heldy. Heldy diminta menggunakan kain dan kebaya, ia naik jip menuju Istana. Di sepanjang jalan banyak tentara bersiaga. Suasana tegang. Di pintu Istana, Heldy tak mendapati sambutan Bung Karno seperti biasanya. Bung Karno sedang tidur di kamar. Raut wajahnya terlihat letih.

“Mas agak capek,” kata Bung Karno.

Ia mencium pipi Heldy. Bung Karno banyak bercerita, sementara Heldy tak berani bertanya tentang peristiwa yang didengarnya di radio .

Bulan Mei 1966, sudah hampir setahun Heldy menjadi kekasih Bung Karno. Itu waktu yang cukup bagi Bung Karno untuk meminta kesediaan Heldy menjadi istrinya. Heldy diam sesaat. Ia tahu benar keadaan negara sedang gawat. Ia juga tahu Bung Karno telah memiliki beberapa istri sebelum dirinya. Siti Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Kartini Manoppo, dan Yurike Sanger. Hanya dengan Yurike ia kenal karena pernah sama-sama menjadi anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika. 

Baca juga: Mengenal Heldy Djafar, Gadis Tenggarong Istri Bung Karno (1)

“Yang aku cari bukan wanita yang cantik luarnya saja. Tapi juga dalamnya, itu ada dalam dirimu. Kau sungguh menarik bagiku, dan kau juga bisa beribadah dan mengerti baca Al Quran, ini yang aku cari sesungguhnya.”

“Saya tidak bisa menolak lamaran Bapak, hubungan kita sudah telanjur dekat. Saya mau menikah dengan Bapak,” jawab Heldy, menatap Bung Karno.

Tanggal pernikahan dipilih, 11 Juni 1966 atau lima hari setelah Bung Karno berulang tahun ke-65. Berita bahagia segera dikabarkan ke Kalimantan. Ayah Heldy yang bersuka cita datang ke Jakarta. Sayang, baru sampai di Samarinda dadanya sakit. Ia dibawa kembali ke Tenggarong. Sehari sebelum akad nikah putrinya, H. Djafar meninggal dunia karena serangan jantung.



Reporter : Marki/Kompas.com    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0