23 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Carl Alfred Bock, Penjelajah Kalimantan 1879


Carl Alfred Bock, Penjelajah Kalimantan 1879
Menyeberang Sungai Benangan di pedalaman Kalimantan. Litografi oleh C.F. Kelley berdasar lukisan karya Carl Bock. Bock menjelajahi Kalimantan timur dan selatan, dari Kutai ke Banjarmasin. Tentang pengalamannya, dia menulis sebuah buku "The Head Hunters of Borneo" yang terbit pada 1881. Foto bawah, Carl Alfred Bock. (Foto-foto: Repro/National Geographic/Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

KLIKTENGGARONG - Lelaki asal Norwegia itu menjelajah Kalimantan pada medio 1879; seorang naturalis dari Eropa yang meniti belukar Borneo.

Pada Minggu, 20 Juli 1879, saya memulai perjalanan dari Samarinda dengan dua perahu ke Tangaroeng (Tenggarong, Red.),” ungkap seorang lelaki muda di buku catatannya. “Jaraknya sekitar 30 mil perjalanan lewat sungai,” sambung tulisan itu.

Lelaki itu adalah Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orangtuanya, Norwegia. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) selama 6 bulan. Ketika itu usianya masih 30 tahun. (Baca juga: Benarkah Ada Manusia Berekor di Kalimantan?)

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak. Pun, Bock bertugas menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda.

Dari hasil penjelajahan di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi. Dalam bukunya yang sensasional itu, Bock berkisah tentang peradaban Dayak dan kanibalisme antarsuku.

“Bock memberi kita informasi yang padat tentang suku Dayak dari Kalimantan Selatan,” ungkap Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dan penjelajah asal Inggris, beberapa bulan setelah buku itu terbit, seperti dikutip Klik Tenggarong di National Geographic.

“Kesan umum dari deskripsinya yang didukung potret kehidupan menunjukkan adanya kesamaan nan indah antara semua suku di pulau besar ini, baik dalam karakteristik fisik dan mental,” demikian ungkap Wallace. “Meskipun ada banyak spesialisasi dalam kebiasaan,” timpalnya.

Bock --dalam catatannya-- telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amuntai, dan Dayak Tring.

Dia juga menuturkan upayanya dalam menyingkap kisah lama dari warga setempat tentang manusia berekor. Seorang abdi kepercayaan dari Sultan Kutai A.M. Sulaiman bersaksi pernah menjumpai sosok itu dan menjulukinya dengan “Orang Boentoet”.

“Saya berhasil menyelesaikan perjalanan ini,” ungkap Bock. “Saya menjelajahi rute dari Tangaroeng ke Bandjermasin, sejauh 700 mil, melewati serangkaian bahaya dan kesukaran di suku Dayak,” tukasnya. (*)

Reporter : Bunga Aviria    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0