23 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Benarkah Ada Manusia Berekor di Kalimantan?


Benarkah Ada Manusia Berekor di Kalimantan?
Kedaton Kesultanan Kutai di Tenggarong, tepian Mahakam, pada masa Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Bangunan ini telah binasa, di sekitar lokasinya telah berdiri kedaton baru yang dibangun dengan gaya art-deco pada 1930-an. Litografi berdasar karya lukis Carl Bock pada 1879 dan 1880. (Foto: Repro/National Geographic/Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

KLIKTENGGARONG - Sekonyong-konyong mencari "rantai kerabat yang hilang", keingintahuan Carl Alfred Bock --penjelajah Kalimantan dari Norwegia di medio 1879-- nyaris membuat perseteruan dua kesultanan di Benua Etam.

Benarkah ada manusia berekor di Kalimantan? Sejarah pencarian ini sendiri sempat di-publish National Geographic dalam tiga bagian artikel, seperti dikutip Klik Tenggarong. (Baca juga: Carl Alfred Bock, Penjelajah Kalimantan 1879)

Kala itu, Bock menikmati durian dalam jamuan makan malam di atas rakit. Sembari menyantap, Bock berbincang dengan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan kerabatnya tentang keberadaan ras manusia berekor.

Konon, mereka menghuni permukiman Kesultanan Pasir dan tepian Sungai Teweh. Percakapan itu membuat Bock berpikir tentang keberadaan “tautan kerabat yang hilang” yang disuarakan pendukung teori Darwin.

Tjiropon, seorang abdi kepercayaan Sultan, meyakinkan Bock di depan Sultan dan para Pangeran. Sang abdi itu beberapa tahun silam pernah menjumpai sosok manusia berekor di Pasir, dan menjulukinya dengan “Orang Boentoet”.

Sang abdi bahkan mampu melukiskan sosok manusia berekor dengan kata-kata. Kepala suku mereka, ujarnya, berpenampilan sangat luar biasa; berambut putih, dan bermata putih.

Mereka memiliki ekor sekira 5 hingga 10 sentimeter. Uniknya, mereka harus membuat lubang di lantai rumah untuk tempat ekor, sehingga mereka dapat duduk nyaman.

Sultan Kutai pun turut takjub dengan kisah abdinya. Dia pun memberangkatkan Tjiropon bersama sebuah surat yang memohon Sultan Pasir untuk mengirimkan sepasang manusia berekor.

Sejatinya, Bock sedikit ragu soal mitos manusia berekor di pedalaman Kalimantan. Namun demikian, dia setuju untuk tetap berupaya mencari “tautan kerabat yang hilang” itu. Bahkan, dia pernah menjanjikan kepada Tjiropon uang sejumlah 500 gulden apabila berhasil membawa sepasang manusia langka itu.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar. Bock melanjutkan perjalanan dari Tenggarong ke Banjarmasin. Ketika Bock berada di kota itu, Tjiropon menjumpainya.

Wajah sang abdi itu kecewa sambil berkata bahwa dia telah menyampaikan surat itu kepada Sultan Pasir, namun tidak mampu membawa ras manusia berekor pesanan Bock. Tjiropon pun memberikan penjelasan yang berbelit-belit.

Akhirnya, Residen Banjarmasin pun bersedia membantu Bock. Dia mengirim surat kepada Sultan Pasir yang isinya menanyakan sekali lagi soal keberadaan manusia berekor di wilayahnya.

Hampir sebulan berlalu, surat balasan dari Sultan Pasir sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin. Tampaknya ada salah paham: "Orang Boentoet Sultan di Pasir" adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Pasir.



Reporter : Bunga Aviria    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0